LAPORAN PEMERIKSAAN FORMALIN, BORAKS DAN METIL YELLOW PADA MAKANAN DAN MINUMAN
MATA KULIAH : PENYEHATAN MAKANAN DAN MINUMAN -A
DOSEN : KHIKI PURNAWATI KASIM SST.,M.Kes
LAPORAN PEMERIKSAAN FORMALIN, BORAKS DAN METIL YELLOW PADA MAKANAN DAN MINUMAN
DISUSUN OLEH
NAMA : FITRIANI S
NIM : PO.71.4.221.16.1.015
TINGKAT : DIV/II A
KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
POLITEKNIK KESEHATAN MAKASSAR
JURUSAN KESEHATAN LINGKUNGAN
PROGRAM STUDI D-IV
2018
KATA PENGANTAR
Assalamualaikum wr.wb.
Puji syukur penulis panjatkan kepada ALLAH SWT.Yang telah memberikan kepada kita semua rahmat dan karunia-Nya.Shalawat dan salam selalu tercurahkan kepada junjungan kita nabi besar Muhamad Saw.Karena atas izin-Nya penulis dapat menyelesaikan makalah yang Laporan pemeriksaan kadar sianida, timbal dan merkuri ini.
Kami menyadari bahwa dalam proses penyusunan laporan ini masih jauh dari kesempurnaan baik dari materi maupun cara penulisannya. Namun demikian, kami telah berupaya dengan segala kemampuan dan pengetahuan yang di miliki sehingga dapat selesai dengan baik dan oleh karnanya, dengan rendah hati dan dengan tangan terbuka menerima masukan, saran dan usul guna penyempurnaan laporan ini. Akhirnya kami berharap semoga laporan ni dapat bermanfaat buat kita semua.
Wassalamualaikum wr.wb.
Makassar, 2 April 2018
Penulis
BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Makanan adalah bahan, biasanya berasal dari hewan atau tumbuhan, dimakanoleh makhluk hidup untuk memberikan tenaga dana nutrisi. Setiap makhlukhidup membutuhkan makanan.Tanpa makanan, makhluk hidup akan sulit dalammengerjakan aktifitas sehari - harinya. Makanan dapat membantu kita dalammendapatkan energi, membantu pertumbuhan badan dan otak.Pada umumnya logam berat banyak digunakan dalam kegiatan perindustrianseperti pabrik tekstil, cat, farmasi, kimia, pestisida, deterjen percetakan dll.)
Dalam kehidupan ini ,manusia dikelilingi oleh zat yang dapat bermanfaat dan zat yang berbahaya bahkan dapat mematikan. Terkadang manusia tidak memperdulikan zat yang berbahaya ini. Tanpa disadari zat ini sangat sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari.
Kandungan bahan tambahan pangan di era globalisasi ini semakin banyak pula, seperti pengawet makanan, bahan pewarna, bahan penyedap dan lain sebagainya. Tambahan bahan pangan di karenakan agar makanan lebih enak dan terlihat menarik sehingga tidak lazim lagi produsen menambahkan bahan tambahan ke dalam makanan atau minumannya.
B. Rumusan masalah
1.untuk mengetahui apakah terdapat kandungan formalin pada makanan?
2. untuk mengetahui apakah terdapat kandungan boraks pada makanan?
3. untuk mengetahui apakah terdapat kandungan metil yellow pada makanan l?
C. Tujuan pemeriksaan
1.untuk mengetahui apakah terdapat kandungan formalin pada makanan ?
2. untuk mengetahui apakah terdapat kandungan boraks pada makanan?
3. untuk mengetahui apakah terdapat kandungan metil yellow pada makanan ?
BAB II
DASAR TEORI
Formalin
Formaldehid (HCOH) merupakan suatu bahan kimia dengan berat molekul 30,03 yang pada suhu kamar dan tekanan atmosfer berbentuk gas tidak berwarna, berbau pedas (menusuk) dan sangat reaktif (mudah terbakar). Bahan ini larut dalam air dan sangat mudah larut dalam etanol dan eter (Moffat, 1986).
Penyimpanan dilakukan pada wadah tertutup baik, terlindung dari cahaya dan sebaiknya pada suhu diatas 20°C (Ditjen POM, 1979). Formalin sudah sangat umum digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Apabila digunakan secara benar, formalin akan banyak kita rasakan manfaatnya, misalnya sebagai antibakteri atau pembunuh kuman dalam berbagai jenis keperluan industri, yakni pembersih lantai, kapal, gudang dan pakaian, pembasmi lalat maupun berbagai serangga lainnya. Dalam dunia fotografi biasanya digunakan sebagai pengeras lapisan gelatin dan kertas. Formalin juga sering digunakan sebagai bahan pembuatan pupuk urea, bahan pembuat produk parfum, pengawet bahan kosmetika, pengeras kuku. Formalin boleh juga dipakai sebagai bahan pencegah korosi untuk sumur minyak. Di bidang industri kayu, formalin digunakan sebagai bahan perekat untuk produk kayu lapis (polywood). Dalam kosentrasi yang sangat kecil (< 1%) digunakan sebagai pengawet untuk berbagai barang konsumen seperti pembersih rumah tangga, cairan pencuci piring, pelembut, perawat sepatu, shampoo mobil, lilin dan karpet (Yuliarti, 2007).
Produsen sering kali tidak tahu kalau penggunaan formalin sebagai bahan pengawet makanan tidaklah tepat karena bisa menimbulkan berbagai gangguan kesehatan bagi konsumen yang memakannya. Beberapa penelitian terhadap tikus dan anjing menunjukkan bahwa pemberian formalin dalam dosis tertentu pada jangka panjang bisa mengakibatkan kanker saluran cerna. Penelitian lainnya menyebutkan peningkatan risiko kanker faring (tenggorokan), sinus dan cavum nasal (hidung) pada pekerja tekstil akibat paparan formalin melalui hirupan (Yuliarti, 2007).Uap formalin sangat iritatif, dapat menyebabkan rasa yang menyengat dan rasa menusuk dalam hidung dan menyebabkan keluarnya air mata. Formalin sangat cepat diabsorbsi dari saluran pencernaan dan juga paru-paru. Formalin yang masuk melalui saluran pernafasan menyebabkan bronkitis, pneumonitis, kerusakan ginjal, dan penekanan susunan saraf pusat (Groliman, 1962).
Efek formalin jika tertelan menyebabkan gangguan pencernaan, asidosis yang kuat, karena formalin dalam tubuh mengalami metabolisme menjadi asam formiat, karbondioksida, metanol, dan dalam bentuk metabolit HO-CH2 alkilasi (Theines dan Halley, 1955). Formalin juga dapat menyebabkan sakit perut, mual, muntah, diare, bahkan kematian jika dikonsumsi pada jumlah yang melewati ambang batas aman (Gazette, 2003).
Efek jangka pendek dari mengkonsumsi formalin antara lain terjadinya iritas pada saluran pernafasan, muntah-muntah, pusing, dan rasa terbakar pada tenggorokan. Efek jangka panjangnya adalah terjadinya kerusakan organ penting seperti hati, jantung, otak, limpa, pankreas, sistem susunan saraf pusat, dan ginjal (Lee, et all 1978).
Batas normal tubuh dapat menetralisir formalin dalam tubuh melalui konsumsi makanan adalah 1,5 sampai 14 mg setiap harinya. Mengkonsumsi secara terus menerus dan dalam skala cukup tinggi dapat menyebabkan mutasi genetik yang berakibat pada meningkatnya kemungkinan terkena kanker (Anonim, 2006). The United States Environmental Protection Agency (USEPA) yang merupakan salah satu badan perlindungan makanan dunia menetapkan nilai ADI (Acceptable Daily Intake) formalin sebesar 0,2 mg/kg berat badan.
Tanda dan gejala jika seseorang keracunan formalin adalah:
Menyebabkan rasa terbakar pada mulut, saluran pernafasan dan perut, sulit menelan, diare, sakit perut, hipertensi, kejang, koma.
Kerusakan hati, jantung, otak, limpa, pankreas, system susunan syaraf pusat, dan gangguan ginjal.
Berdasarkan temuan patologis, folmaldehide merusak jaringan dan menyusutkan selaput lendir, juga merusak hati, ginjal, jantung, dan otak.
Boraks
Boraks atau dalam nama ilmiahnya dikenal sebagai sodium tetraborate decahydrate merupakan bahan pengawet yang dikenal masyarakat awam untuk mengawetkan kayu, antiseptik kayu dan pengontrol kecoa. Tampilan fisik boraks adalah berbentuk serbuk kristal putih. Boraks tidak memiliki bau jika dihirup menggunakan indera pencium serta tidak larut dalam alkohol. Indeks keasaman dari boraks diuji dengan kertas lakmus adalah 9,5, ini menunjukkan tingkat keasaman boraks cukup tinggi (Bambang, 2008).
Boraks merupakan senyawa kimia berbahaya untuk pangan dengan nama kimia natrium tetrabonat (NaB4O7 10H2O). Dapat dijumpai dalam bentuk padat dan jika larut dalam air akan menjadi natrium hidroksida dan asam borat (H3BO3). Boraks atau asam borat biasa digunakan sebagai bahan pembuat deterjen, bersifat antiseptik dan mengurangi kesadahan air. Bahan berbahaya ini haram digunakan untuk makanan. Bahaya boraks jika terhirup, mengenai kulit dan tertelan bisa menyebabkan iritasi saluran pernapasan, iritasi kulit, iritasi mata dan kerusakan ginjal. Jika boraks 5-10 gram tertelan oleh anak-anak bisa menyebabkan shock dan kematian. Efek akut dari boraks bisa menyebabkan badan berasa tidak enak, mual, nyeri hebat pada perut bagian atas, perdarahan gastro-enteritis disertai muntah darah, diare, lemah, mengantuk, demam, dan sakit kepala.
Asam borat atau boraks (boric acid) merupakan zat pengawet berbahaya yang tidak diizinkan digunakan sebagai campuran bahan makanan. Boraks adalah senyawa kimia dengan rumus Na2B4O7 10H2O berbentuk kristal putih, tidak berbau dan stabil pada suhu dan tekanan normal. Dalam air, boraks berubah menjadi natrium hidroksida dan asam borat (Syah, 2005). Asam borat sering digunakan dalam dunia pengobatan dan kosmetika. Misalnya, larutan asam borat dalam air digunakan sebagai obat cuci mata dan dikenal sebagai boorwater. Asam borat juga digunakan sebagai obat kumur, semprot hidung, dan salep luka kecil. Namun, bahan ini tidak boleh diminum atau digunakan pada luka luas, karena beracun ketika terserap masuk dalam tubuh.
Menurut Peraturan Menteri Kesehatan RI No.722/Menkes/IX/1988, asam borat dan senyawanya merupakan salah satu dari jenis bahan tambahan makanan yang dilarang digunakan dalam produk makanan. Karena asam borat dan senyawanya merupakan senyawa kimia yang mempunyai sifat karsinogen. Meskipun boraks berbahaya bagi kesehatan ternyata masih banyak digunakan oleh masyarakat sebagai bahan tambahan makanan, karena selain berfungsi sebagai pengawet, boraks juga dapat memperbaiki tekstur bakso dan kerupuk hingga lebih kenyal dan lebih disukai konsumen (Mujianto, 2003).
Dari berbagai penelitian yang telah dilakukan diperoleh data bahwa senyawa asam borat ini dipakai pada lontong agar teksturnya menjadi bagus dan kebanyakan ditambahkan pada proses pembuatan bakso. Komposisi dan bentuk asam borat mengandung 99,0% dan 100% H3BO3. Mempunyai bobot molekul 61,83 dengan B = 17,50% ; H = 4,88% ; O = 77,62% berbentuk serbuk hablur kristal transparan atau granul putih tak berwarna dan tak berbau serta agak manis (Cahyadi, 2008).
Karekteristik boraks antara lain (Riandini, 2008):
1.Warna adalah jelas bersih
2.Kilau seperti kaca
3.Kristal ketransparanan adalah transparan ke tembus cahaya
4.Sistem hablur adalah monoklin
5.Perpecahan sempurna di satu arah
6. Warna lapisan putih
7. Mineral yang sejenis adalah kalsit, halit, hanksite, colemanite, ulexite dan garam asam bor yang lain
8. Karakteristik yang lain: suatu rasa manis yang bersifat alkali.
Metil Yellow
Methanyl Yellow / Metanil yellow atau kuning metanil merupakan zat warna sintetis berbentuk serbuk, padat, berwarna kuning kecoklatan. Kuning metanil umumnya digunakan sebagai pewarna tekstil, dan cat.Saat ini banyak kuning metanildi salah gunakan untuk pangan, beberapa telah ditemukan untuk beberapa jenis pangan di antaranya, kerupuk, mie,pangan jajanan berwarna kuning dan banyak juga sebagai pewarna pada tahu. Ciri pangan dengan pewarna kuning metanil biasanya, berwarna kuning menyolok dan cenderung berpendar, banyak memberikan titik-titik warna karena tidak homogen (misalnya pada kerupuk).
Zat pewarna kuning Metanil yellow, merupakan zat pewarna industry tekstil yangdilarang untuk produk makanan, yang pada umumnya menggunakan zat anorganik ataupunmineral alam. Zat warna anorganik berasal dari persenyawaan logam berat seperti aluminium,besi, tembaga dan lainnya. Zat warna ini bersifat racun dan berbahaya karena mengandungresidu logam berat. Industri tekstil menggunakan logam berat sebagai bahan pengikat warnaagar warna warna yang dihasilkan menjadi lebih terang dan indah. Bahkan ada beberapaindustry tekstil yang menggunakan logam berat sebagai bahan pewarna. Logam berat yangterkandung di dalam pewarna tekstil dapat dilihat dari jenis limbah yang dihasilkan industrytekstil tersebut, terutama arsenic (Ar), Kadmium (Cd), krom (Cr), timbal (Pb), tembaga (Cu),zinc/seng (Zn) (Agus widodo, 2006)
Berdasarkan struktur kimianya, metanil yellow dan beberapa pewarna sintetik dikategorikan dalam golongan azo. Namun, metanil yellow termasuk pewarna golongan azo yang telah dilarang digunakan pada pangan. Pada umumnya, pewarna sintetik azo bersifat lebih stabil daripada kebanyakan pewarna alami. Pewarna azo stabil dalam berbagai rentang pH, stabil pada pemanasan, dan tidak memudar bila terpapar cahaya atau oksigen. Hal tersebut menyebabkan pewarna azo dapat digunakan pada hampir semua jenis pangan. Salah satu kekurangan pewarna azo adalah sifatnya yang tidak larut dalam minyak atau lemak. Hanya bila pewarna azo digabungkan dengan molekul yang bersifat larut lemak atau bila pewarna azo tersebut didispersikan dalam bentuk partikel halus, maka lemak atau minyak dapat terwarnai.
Pewarna azo memiliki tingkat toksisitas akut yang rendah. Dosis toksik akut pewarna azo tidak akan tercapai dengan mengkonsumsi pangan yang mengandung pewarna azo. Kebanyakan pewarna azo (baik pewarna untuk pangan maupun tekstil) memiliki nilai LD50 dengan kisaran 250 – 2000 mg/kg berat badan, yang mengindikasikan bahwa dosis letal dapat dicapai jika seseorang mengkonsumsi beberapa gram pewarna azo dalam dosis tunggal. Oleh karena pewarna azo memiliki intensitas warna yang sangat kuat, maka secara normal pada pangan hanya ditambahkan beberapa miligram pewarna azo per kilogram pangan. Berdasarkan perhitungan, rata-rata orang dewasa akan memerlukan lebih dari 100 kg pangan yang mengandung pewarna azo dalam satu hari untuk mencapai dosis letal.
Beberapa perwarna azo telah dilarang digunakan pada pangan karena efek toksiknya. Namun, efek toksik tersebut bukan disebabkan oleh pewarna itu sendiri melainkan akibat adanya degradasi pewarna yang bersangkutan. Pada suatu molekul pewarna azo, ikatan azo merupakan ikatan yang bersifat paling labil sehingga dapat dengan mudah diurai oleh enzim azo-reduktase yang terdapat dalam tubuh mamalia, termasuk manusia. Pada mamalia, enzim azo-reduktase (dengan berbagai aktivitasnya) dapat dijumpai pada berbagai organ, antara lain hati, ginjal, paru-paru, jantung, otak, limpa, dan jaringan otot.
Setelah ikatan azo terurai secara enzimatik, maka bagian amina aromatik akan diabsorbsi oleh usus dan diekskresikan melalui urin. Oleh karena beberapa produk hasil degradasi pewarna azo diketahui bersifat mutagenik atau karsinogenik, maka beberapa pewarna azo kemudian dilarang digunakan dalam pangan.Metanil yellow merupakan salah satu pewarna azo yang telah dilarang digunakan dalam pangan. Senyawa ini bersifat iritan sehingga jika tertelan dapat menyebabkan iritasi saluran cerna. Selain itu, senyawa ini dapat pula menyebabkan mual, muntah, sakit perut, diare, demam, lemah, dan hipotensi.
Pada penelitian mengenai paparan kronik metanil yellow terhadap tikus putih (Rattus norvegicus) yang diberikan melalui pakannya selama 30 hari, diperoleh hasil bahwa terdapat perubahan hispatologi dan ultrastruktural pada lambung, usus, hati, dan ginjal. Hal tersebut menunjukkan efek toksik metanil yellow terhadap tikus.Penelitian lain yang menggunakan tikus galur Wistar sebagai hewan ujinya menunjukkan hasil bahwa konsumsi metanil yellow dalam jangka panjang dapat mempengaruhi sistem saraf pusat yang mengarah pada neurotoksisitas.
BAB III
METODE PRAKTIKUM
A. Waktu dan Tempat
Hari / tanggal : Senin, 26 maret 2018
Pukul : 09.00 WITA – Selesai .
Tempat : lab.kesehatan lingkungan poltekkes Kemenkes Makassar
Sampel :
1.Ikan kering
2.Sosis manyuss alfamart banta-bantaeng
3. manisan mangga jl pelita
1.Pemeriksaan kandungan formalin
a) alat
1) Cawan petri
2) Spet
3) Mortal
4) Tabung reaksi & rak tabung reaksi
b. Bahan
1) Pereaksi Formalin ( Test kit )
2) Sampel makanan
3) Kapas
4) Air mineral
c. Cara kerja
1) Persiapkan sampel yang akan di periksa;
2) sampel dihaluskan terlebih dahulu menggunakan mortal;
3) Tambahkan sedikit air agar sampel menjadi lebih halus atau menjadi homogen dengan air;
4) Kemudian tuangkan masing-masing sampel ke dalam cawan petri;
5) Ambil air yang telah homogen dengan sampel menggunakan spet sebanyak 1 ml;
( note : Tanpa ada padatannya )
6) Kemudian masukkan kedalam tabung reaksi;
7) Lalu tambahkan 3 – 5 tetes pereaksi I formalin ke dalam tabung reaksi tersebut secara hati – hati tetes demi tetes dan segera tutup botolnya;
8) Tambahkan pereaksi II formalin ± 1mg ( dengan menggunakan ujung stik yang telah tersedia ) kedalam tabung dan kocok hingga homogen; ( jangan tersentuh tangan )
9) Tutup tabung menggunakan kapas dan diamkan selama 5 menit;
10) Jika hasilnya positif, sampel akan berubah warnanya menjadi ungu kebiruan.
2.Pemerisaan kandungan boraks
a. Alat
1) Cawan petri
2) Spet
3) Mortal
4) Tabung reaksi & rak tabung reaksi
b. Bahan
1) Pereaksi Boraks ( Test kit )
2) Sampel makanan
3) Air mineral
4) Kapas
D.Cara kerja
1) Persiapkan sampel yang akan di periksa
2) Masing-masing sampel dihaluskan terlebih dahulu menggunakan mortal;
3) Tambahkan sedikit air agar sampel menjadi lebih halus atau telah homogen dengan air;
4) Kemudian tuangkan masing-masing sampel ke dalam cawan petri;
5) Ambil air yang telah homogen dengan sampel menggunakan spet sebanyak 1 ml;( note : Tanpa ada padatannya )
6) Kemudian masukkan kedalam tabung reaksi;
7) Lalu tambahkan 10 – 20 tetes pereaksi I boraks ke dalam tabung reaksi tersebut secara hati – hati tetes demi tetes dan segera tutup botolnya;
8) Kocok hati – hati selama beberapa menit;
9) Celupkan pereaksi boraks II ( kertas lakmus ) kedalam tabung reaksi secara perlahan hingga kertas menjadi basah;
10) Kemudian angin – anginkan hingga kering;
11) Jika kertas ( pereaksi II ) berubah menjadi kemerahan atau merah, tandanya sampel positif mengandung boraks.
3.Pemeriksaan kandungan Metil yellow
a. Alat
1. Beaker gelas 50 ml
2. Benang wol bebas lemak (30 cm)
3. Chamber
4. Erlenmeyar 250 ml
5. Gelas ukur 10 ml dan 50 ml
6. Labu ukur 50 ml dan 100 ml
7. Penangas air
8. Pipet micro 50 ul
9. Pipet volume 5 ml dan 10 ml
10. Plate silica gel GF. 254
11. Whatman
b. Bahan
1. Ammonia 10 %
2. Aquadest
3. Asam asetat encer 6 %
4. Asam asetat glacial
5. Baku metanil yellow
6. Etanol
7. N- butanol
8. Sampel makanan
D.Prosedur Kerja
a. Larutan uji
1. Masukan 30 ml cuplikan dalam tabung 100 ml, asamkan sedikit dengan asam asetat glacial encer 6 % dan masukan benang wol bebas lemak
2. Panaskan diatas tangas air sampai semua warna terisolasi
3. Benang wol yang telah berwarna, dipisahkan dan dicuci dengan air dan dimasukan dalam labu 50 ml
4. Tambahkan 10 ml ammonia secukupnya, panaskan diatas penangas air sampai benang wol tidak berwarna. Setelah benang wol dipisahkan, laritan dipekatkan (A)
b. Larutan baku (B)
1. Timbang saksama metanil yellow 50 mg
2. Larutkan dengan aquadest secukupnya
3. Tambahkan lagi aquadest sampai batas tanda labu 100 ml.
c. Prosedur identifikasi
1. Larutan A dan B ditotolkan secara terpisah dan kromatografi lapis tipis, sebagai berikut :
2. Fase diam : plate silica gel
3. Fase gerak :
1) N- butanol : aquadest : asam asetat glacial = 20 : 12 : 5
2) N- butanol : etanol : aquadest : ammonia = 42 : 28 : 28 : 1
4. Dilakukan penjenuhan dengan kertas saring
5. Pengukuran volume penotolan larutan A dab B masing-masing 10 ul
6. Ukur jarak rambat sepanjang 15 cm
7. Penentuan penampak bercak adalah cahaya tampak, bercak berwarna kuning.
BAB III
HASIL DAN ANALISA HASIL
A. HASIL
Berdasarkan hasil pemeriksaan di temukan :
1.Formalin ( Ikan kering ) = positif mengandung formalin
2.Boraks ( sosis manyuss ) = negatif mengandung boraks
3.Metil yellow ( manisan mangga ) = tidak mengandung metil yellow
B.ANALISA HASIL
Dari hasil pemeriksaan diperoleh bahwa sampel ikan kering positif mengandung formalin, yaitu 5mg/l dengan pengenceran 5x ( 5x5 = 25 mg/l) sehingga tidak aman untuk di komsumsi .ciri-ciri ikan kering yang mengandung formalin dapat di lihat dari keadaan dimana ikan kering di beli yaitu ikan kering sama sekali tidak di hinggapi lalat, tidak mudah rusak, aromanya tidak berbau khas ikan kering .
Dari hasil pemeriksaan diperoleh bahwa sampel sosis manyus di alfamart banta-bantaeng negatif mengandung boraks. Ciri-ciri sosis yang mengandung boraks yaitu teksturnya lebih kenyal, bila di digigit akan kembali ke bentuk semula, tahan lama, bau tidak beraroma sosis tapi ada bau yang lain muncul atau berbau menyengat, dan bila di lempar ke lantai akan memantul .
Dari hasil pemeriksaan diperoleh bahwa sampel manisan mangga negatif mengandung metil yellow. Meskipun pada manisan warna kuningnya mencolok tetapi itu hanya menggunakan pewarma alami bukan pewarna metil yellow.dan berdasarkan permenkes no.239/Menkes/per/V/85 aman untuk di komsumsi.
DAFTAR PUSTAKA
Chrisnanda95.blospot.com ( diakses pada 3 april 2018 )
https://id.m.wikipedia.org>wiki>boraks ( diakses pada 3 april 2018 )
Seputarpengertian.blogpot.com ( diakses pada 3 april 2018 )
Https://serbaserbi.blogspot.com ( diakses pada 3 april 2018 )
DOSEN : KHIKI PURNAWATI KASIM SST.,M.Kes
LAPORAN PEMERIKSAAN FORMALIN, BORAKS DAN METIL YELLOW PADA MAKANAN DAN MINUMAN
DISUSUN OLEH
NAMA : FITRIANI S
NIM : PO.71.4.221.16.1.015
TINGKAT : DIV/II A
KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
POLITEKNIK KESEHATAN MAKASSAR
JURUSAN KESEHATAN LINGKUNGAN
PROGRAM STUDI D-IV
2018
KATA PENGANTAR
Assalamualaikum wr.wb.
Puji syukur penulis panjatkan kepada ALLAH SWT.Yang telah memberikan kepada kita semua rahmat dan karunia-Nya.Shalawat dan salam selalu tercurahkan kepada junjungan kita nabi besar Muhamad Saw.Karena atas izin-Nya penulis dapat menyelesaikan makalah yang Laporan pemeriksaan kadar sianida, timbal dan merkuri ini.
Kami menyadari bahwa dalam proses penyusunan laporan ini masih jauh dari kesempurnaan baik dari materi maupun cara penulisannya. Namun demikian, kami telah berupaya dengan segala kemampuan dan pengetahuan yang di miliki sehingga dapat selesai dengan baik dan oleh karnanya, dengan rendah hati dan dengan tangan terbuka menerima masukan, saran dan usul guna penyempurnaan laporan ini. Akhirnya kami berharap semoga laporan ni dapat bermanfaat buat kita semua.
Wassalamualaikum wr.wb.
Makassar, 2 April 2018
Penulis
BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Makanan adalah bahan, biasanya berasal dari hewan atau tumbuhan, dimakanoleh makhluk hidup untuk memberikan tenaga dana nutrisi. Setiap makhlukhidup membutuhkan makanan.Tanpa makanan, makhluk hidup akan sulit dalammengerjakan aktifitas sehari - harinya. Makanan dapat membantu kita dalammendapatkan energi, membantu pertumbuhan badan dan otak.Pada umumnya logam berat banyak digunakan dalam kegiatan perindustrianseperti pabrik tekstil, cat, farmasi, kimia, pestisida, deterjen percetakan dll.)
Dalam kehidupan ini ,manusia dikelilingi oleh zat yang dapat bermanfaat dan zat yang berbahaya bahkan dapat mematikan. Terkadang manusia tidak memperdulikan zat yang berbahaya ini. Tanpa disadari zat ini sangat sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari.
Kandungan bahan tambahan pangan di era globalisasi ini semakin banyak pula, seperti pengawet makanan, bahan pewarna, bahan penyedap dan lain sebagainya. Tambahan bahan pangan di karenakan agar makanan lebih enak dan terlihat menarik sehingga tidak lazim lagi produsen menambahkan bahan tambahan ke dalam makanan atau minumannya.
B. Rumusan masalah
1.untuk mengetahui apakah terdapat kandungan formalin pada makanan?
2. untuk mengetahui apakah terdapat kandungan boraks pada makanan?
3. untuk mengetahui apakah terdapat kandungan metil yellow pada makanan l?
C. Tujuan pemeriksaan
1.untuk mengetahui apakah terdapat kandungan formalin pada makanan ?
2. untuk mengetahui apakah terdapat kandungan boraks pada makanan?
3. untuk mengetahui apakah terdapat kandungan metil yellow pada makanan ?
BAB II
DASAR TEORI
Formalin
Formaldehid (HCOH) merupakan suatu bahan kimia dengan berat molekul 30,03 yang pada suhu kamar dan tekanan atmosfer berbentuk gas tidak berwarna, berbau pedas (menusuk) dan sangat reaktif (mudah terbakar). Bahan ini larut dalam air dan sangat mudah larut dalam etanol dan eter (Moffat, 1986).
Penyimpanan dilakukan pada wadah tertutup baik, terlindung dari cahaya dan sebaiknya pada suhu diatas 20°C (Ditjen POM, 1979). Formalin sudah sangat umum digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Apabila digunakan secara benar, formalin akan banyak kita rasakan manfaatnya, misalnya sebagai antibakteri atau pembunuh kuman dalam berbagai jenis keperluan industri, yakni pembersih lantai, kapal, gudang dan pakaian, pembasmi lalat maupun berbagai serangga lainnya. Dalam dunia fotografi biasanya digunakan sebagai pengeras lapisan gelatin dan kertas. Formalin juga sering digunakan sebagai bahan pembuatan pupuk urea, bahan pembuat produk parfum, pengawet bahan kosmetika, pengeras kuku. Formalin boleh juga dipakai sebagai bahan pencegah korosi untuk sumur minyak. Di bidang industri kayu, formalin digunakan sebagai bahan perekat untuk produk kayu lapis (polywood). Dalam kosentrasi yang sangat kecil (< 1%) digunakan sebagai pengawet untuk berbagai barang konsumen seperti pembersih rumah tangga, cairan pencuci piring, pelembut, perawat sepatu, shampoo mobil, lilin dan karpet (Yuliarti, 2007).
Produsen sering kali tidak tahu kalau penggunaan formalin sebagai bahan pengawet makanan tidaklah tepat karena bisa menimbulkan berbagai gangguan kesehatan bagi konsumen yang memakannya. Beberapa penelitian terhadap tikus dan anjing menunjukkan bahwa pemberian formalin dalam dosis tertentu pada jangka panjang bisa mengakibatkan kanker saluran cerna. Penelitian lainnya menyebutkan peningkatan risiko kanker faring (tenggorokan), sinus dan cavum nasal (hidung) pada pekerja tekstil akibat paparan formalin melalui hirupan (Yuliarti, 2007).Uap formalin sangat iritatif, dapat menyebabkan rasa yang menyengat dan rasa menusuk dalam hidung dan menyebabkan keluarnya air mata. Formalin sangat cepat diabsorbsi dari saluran pencernaan dan juga paru-paru. Formalin yang masuk melalui saluran pernafasan menyebabkan bronkitis, pneumonitis, kerusakan ginjal, dan penekanan susunan saraf pusat (Groliman, 1962).
Efek formalin jika tertelan menyebabkan gangguan pencernaan, asidosis yang kuat, karena formalin dalam tubuh mengalami metabolisme menjadi asam formiat, karbondioksida, metanol, dan dalam bentuk metabolit HO-CH2 alkilasi (Theines dan Halley, 1955). Formalin juga dapat menyebabkan sakit perut, mual, muntah, diare, bahkan kematian jika dikonsumsi pada jumlah yang melewati ambang batas aman (Gazette, 2003).
Efek jangka pendek dari mengkonsumsi formalin antara lain terjadinya iritas pada saluran pernafasan, muntah-muntah, pusing, dan rasa terbakar pada tenggorokan. Efek jangka panjangnya adalah terjadinya kerusakan organ penting seperti hati, jantung, otak, limpa, pankreas, sistem susunan saraf pusat, dan ginjal (Lee, et all 1978).
Batas normal tubuh dapat menetralisir formalin dalam tubuh melalui konsumsi makanan adalah 1,5 sampai 14 mg setiap harinya. Mengkonsumsi secara terus menerus dan dalam skala cukup tinggi dapat menyebabkan mutasi genetik yang berakibat pada meningkatnya kemungkinan terkena kanker (Anonim, 2006). The United States Environmental Protection Agency (USEPA) yang merupakan salah satu badan perlindungan makanan dunia menetapkan nilai ADI (Acceptable Daily Intake) formalin sebesar 0,2 mg/kg berat badan.
Tanda dan gejala jika seseorang keracunan formalin adalah:
Menyebabkan rasa terbakar pada mulut, saluran pernafasan dan perut, sulit menelan, diare, sakit perut, hipertensi, kejang, koma.
Kerusakan hati, jantung, otak, limpa, pankreas, system susunan syaraf pusat, dan gangguan ginjal.
Berdasarkan temuan patologis, folmaldehide merusak jaringan dan menyusutkan selaput lendir, juga merusak hati, ginjal, jantung, dan otak.
Boraks
Boraks atau dalam nama ilmiahnya dikenal sebagai sodium tetraborate decahydrate merupakan bahan pengawet yang dikenal masyarakat awam untuk mengawetkan kayu, antiseptik kayu dan pengontrol kecoa. Tampilan fisik boraks adalah berbentuk serbuk kristal putih. Boraks tidak memiliki bau jika dihirup menggunakan indera pencium serta tidak larut dalam alkohol. Indeks keasaman dari boraks diuji dengan kertas lakmus adalah 9,5, ini menunjukkan tingkat keasaman boraks cukup tinggi (Bambang, 2008).
Boraks merupakan senyawa kimia berbahaya untuk pangan dengan nama kimia natrium tetrabonat (NaB4O7 10H2O). Dapat dijumpai dalam bentuk padat dan jika larut dalam air akan menjadi natrium hidroksida dan asam borat (H3BO3). Boraks atau asam borat biasa digunakan sebagai bahan pembuat deterjen, bersifat antiseptik dan mengurangi kesadahan air. Bahan berbahaya ini haram digunakan untuk makanan. Bahaya boraks jika terhirup, mengenai kulit dan tertelan bisa menyebabkan iritasi saluran pernapasan, iritasi kulit, iritasi mata dan kerusakan ginjal. Jika boraks 5-10 gram tertelan oleh anak-anak bisa menyebabkan shock dan kematian. Efek akut dari boraks bisa menyebabkan badan berasa tidak enak, mual, nyeri hebat pada perut bagian atas, perdarahan gastro-enteritis disertai muntah darah, diare, lemah, mengantuk, demam, dan sakit kepala.
Asam borat atau boraks (boric acid) merupakan zat pengawet berbahaya yang tidak diizinkan digunakan sebagai campuran bahan makanan. Boraks adalah senyawa kimia dengan rumus Na2B4O7 10H2O berbentuk kristal putih, tidak berbau dan stabil pada suhu dan tekanan normal. Dalam air, boraks berubah menjadi natrium hidroksida dan asam borat (Syah, 2005). Asam borat sering digunakan dalam dunia pengobatan dan kosmetika. Misalnya, larutan asam borat dalam air digunakan sebagai obat cuci mata dan dikenal sebagai boorwater. Asam borat juga digunakan sebagai obat kumur, semprot hidung, dan salep luka kecil. Namun, bahan ini tidak boleh diminum atau digunakan pada luka luas, karena beracun ketika terserap masuk dalam tubuh.
Menurut Peraturan Menteri Kesehatan RI No.722/Menkes/IX/1988, asam borat dan senyawanya merupakan salah satu dari jenis bahan tambahan makanan yang dilarang digunakan dalam produk makanan. Karena asam borat dan senyawanya merupakan senyawa kimia yang mempunyai sifat karsinogen. Meskipun boraks berbahaya bagi kesehatan ternyata masih banyak digunakan oleh masyarakat sebagai bahan tambahan makanan, karena selain berfungsi sebagai pengawet, boraks juga dapat memperbaiki tekstur bakso dan kerupuk hingga lebih kenyal dan lebih disukai konsumen (Mujianto, 2003).
Dari berbagai penelitian yang telah dilakukan diperoleh data bahwa senyawa asam borat ini dipakai pada lontong agar teksturnya menjadi bagus dan kebanyakan ditambahkan pada proses pembuatan bakso. Komposisi dan bentuk asam borat mengandung 99,0% dan 100% H3BO3. Mempunyai bobot molekul 61,83 dengan B = 17,50% ; H = 4,88% ; O = 77,62% berbentuk serbuk hablur kristal transparan atau granul putih tak berwarna dan tak berbau serta agak manis (Cahyadi, 2008).
Karekteristik boraks antara lain (Riandini, 2008):
1.Warna adalah jelas bersih
2.Kilau seperti kaca
3.Kristal ketransparanan adalah transparan ke tembus cahaya
4.Sistem hablur adalah monoklin
5.Perpecahan sempurna di satu arah
6. Warna lapisan putih
7. Mineral yang sejenis adalah kalsit, halit, hanksite, colemanite, ulexite dan garam asam bor yang lain
8. Karakteristik yang lain: suatu rasa manis yang bersifat alkali.
Metil Yellow
Methanyl Yellow / Metanil yellow atau kuning metanil merupakan zat warna sintetis berbentuk serbuk, padat, berwarna kuning kecoklatan. Kuning metanil umumnya digunakan sebagai pewarna tekstil, dan cat.Saat ini banyak kuning metanildi salah gunakan untuk pangan, beberapa telah ditemukan untuk beberapa jenis pangan di antaranya, kerupuk, mie,pangan jajanan berwarna kuning dan banyak juga sebagai pewarna pada tahu. Ciri pangan dengan pewarna kuning metanil biasanya, berwarna kuning menyolok dan cenderung berpendar, banyak memberikan titik-titik warna karena tidak homogen (misalnya pada kerupuk).
Zat pewarna kuning Metanil yellow, merupakan zat pewarna industry tekstil yangdilarang untuk produk makanan, yang pada umumnya menggunakan zat anorganik ataupunmineral alam. Zat warna anorganik berasal dari persenyawaan logam berat seperti aluminium,besi, tembaga dan lainnya. Zat warna ini bersifat racun dan berbahaya karena mengandungresidu logam berat. Industri tekstil menggunakan logam berat sebagai bahan pengikat warnaagar warna warna yang dihasilkan menjadi lebih terang dan indah. Bahkan ada beberapaindustry tekstil yang menggunakan logam berat sebagai bahan pewarna. Logam berat yangterkandung di dalam pewarna tekstil dapat dilihat dari jenis limbah yang dihasilkan industrytekstil tersebut, terutama arsenic (Ar), Kadmium (Cd), krom (Cr), timbal (Pb), tembaga (Cu),zinc/seng (Zn) (Agus widodo, 2006)
Berdasarkan struktur kimianya, metanil yellow dan beberapa pewarna sintetik dikategorikan dalam golongan azo. Namun, metanil yellow termasuk pewarna golongan azo yang telah dilarang digunakan pada pangan. Pada umumnya, pewarna sintetik azo bersifat lebih stabil daripada kebanyakan pewarna alami. Pewarna azo stabil dalam berbagai rentang pH, stabil pada pemanasan, dan tidak memudar bila terpapar cahaya atau oksigen. Hal tersebut menyebabkan pewarna azo dapat digunakan pada hampir semua jenis pangan. Salah satu kekurangan pewarna azo adalah sifatnya yang tidak larut dalam minyak atau lemak. Hanya bila pewarna azo digabungkan dengan molekul yang bersifat larut lemak atau bila pewarna azo tersebut didispersikan dalam bentuk partikel halus, maka lemak atau minyak dapat terwarnai.
Pewarna azo memiliki tingkat toksisitas akut yang rendah. Dosis toksik akut pewarna azo tidak akan tercapai dengan mengkonsumsi pangan yang mengandung pewarna azo. Kebanyakan pewarna azo (baik pewarna untuk pangan maupun tekstil) memiliki nilai LD50 dengan kisaran 250 – 2000 mg/kg berat badan, yang mengindikasikan bahwa dosis letal dapat dicapai jika seseorang mengkonsumsi beberapa gram pewarna azo dalam dosis tunggal. Oleh karena pewarna azo memiliki intensitas warna yang sangat kuat, maka secara normal pada pangan hanya ditambahkan beberapa miligram pewarna azo per kilogram pangan. Berdasarkan perhitungan, rata-rata orang dewasa akan memerlukan lebih dari 100 kg pangan yang mengandung pewarna azo dalam satu hari untuk mencapai dosis letal.
Beberapa perwarna azo telah dilarang digunakan pada pangan karena efek toksiknya. Namun, efek toksik tersebut bukan disebabkan oleh pewarna itu sendiri melainkan akibat adanya degradasi pewarna yang bersangkutan. Pada suatu molekul pewarna azo, ikatan azo merupakan ikatan yang bersifat paling labil sehingga dapat dengan mudah diurai oleh enzim azo-reduktase yang terdapat dalam tubuh mamalia, termasuk manusia. Pada mamalia, enzim azo-reduktase (dengan berbagai aktivitasnya) dapat dijumpai pada berbagai organ, antara lain hati, ginjal, paru-paru, jantung, otak, limpa, dan jaringan otot.
Setelah ikatan azo terurai secara enzimatik, maka bagian amina aromatik akan diabsorbsi oleh usus dan diekskresikan melalui urin. Oleh karena beberapa produk hasil degradasi pewarna azo diketahui bersifat mutagenik atau karsinogenik, maka beberapa pewarna azo kemudian dilarang digunakan dalam pangan.Metanil yellow merupakan salah satu pewarna azo yang telah dilarang digunakan dalam pangan. Senyawa ini bersifat iritan sehingga jika tertelan dapat menyebabkan iritasi saluran cerna. Selain itu, senyawa ini dapat pula menyebabkan mual, muntah, sakit perut, diare, demam, lemah, dan hipotensi.
Pada penelitian mengenai paparan kronik metanil yellow terhadap tikus putih (Rattus norvegicus) yang diberikan melalui pakannya selama 30 hari, diperoleh hasil bahwa terdapat perubahan hispatologi dan ultrastruktural pada lambung, usus, hati, dan ginjal. Hal tersebut menunjukkan efek toksik metanil yellow terhadap tikus.Penelitian lain yang menggunakan tikus galur Wistar sebagai hewan ujinya menunjukkan hasil bahwa konsumsi metanil yellow dalam jangka panjang dapat mempengaruhi sistem saraf pusat yang mengarah pada neurotoksisitas.
BAB III
METODE PRAKTIKUM
A. Waktu dan Tempat
Hari / tanggal : Senin, 26 maret 2018
Pukul : 09.00 WITA – Selesai .
Tempat : lab.kesehatan lingkungan poltekkes Kemenkes Makassar
Sampel :
1.Ikan kering
2.Sosis manyuss alfamart banta-bantaeng
3. manisan mangga jl pelita
1.Pemeriksaan kandungan formalin
a) alat
1) Cawan petri
2) Spet
3) Mortal
4) Tabung reaksi & rak tabung reaksi
b. Bahan
1) Pereaksi Formalin ( Test kit )
2) Sampel makanan
3) Kapas
4) Air mineral
c. Cara kerja
1) Persiapkan sampel yang akan di periksa;
2) sampel dihaluskan terlebih dahulu menggunakan mortal;
3) Tambahkan sedikit air agar sampel menjadi lebih halus atau menjadi homogen dengan air;
4) Kemudian tuangkan masing-masing sampel ke dalam cawan petri;
5) Ambil air yang telah homogen dengan sampel menggunakan spet sebanyak 1 ml;
( note : Tanpa ada padatannya )
6) Kemudian masukkan kedalam tabung reaksi;
7) Lalu tambahkan 3 – 5 tetes pereaksi I formalin ke dalam tabung reaksi tersebut secara hati – hati tetes demi tetes dan segera tutup botolnya;
8) Tambahkan pereaksi II formalin ± 1mg ( dengan menggunakan ujung stik yang telah tersedia ) kedalam tabung dan kocok hingga homogen; ( jangan tersentuh tangan )
9) Tutup tabung menggunakan kapas dan diamkan selama 5 menit;
10) Jika hasilnya positif, sampel akan berubah warnanya menjadi ungu kebiruan.
2.Pemerisaan kandungan boraks
a. Alat
1) Cawan petri
2) Spet
3) Mortal
4) Tabung reaksi & rak tabung reaksi
b. Bahan
1) Pereaksi Boraks ( Test kit )
2) Sampel makanan
3) Air mineral
4) Kapas
D.Cara kerja
1) Persiapkan sampel yang akan di periksa
2) Masing-masing sampel dihaluskan terlebih dahulu menggunakan mortal;
3) Tambahkan sedikit air agar sampel menjadi lebih halus atau telah homogen dengan air;
4) Kemudian tuangkan masing-masing sampel ke dalam cawan petri;
5) Ambil air yang telah homogen dengan sampel menggunakan spet sebanyak 1 ml;( note : Tanpa ada padatannya )
6) Kemudian masukkan kedalam tabung reaksi;
7) Lalu tambahkan 10 – 20 tetes pereaksi I boraks ke dalam tabung reaksi tersebut secara hati – hati tetes demi tetes dan segera tutup botolnya;
8) Kocok hati – hati selama beberapa menit;
9) Celupkan pereaksi boraks II ( kertas lakmus ) kedalam tabung reaksi secara perlahan hingga kertas menjadi basah;
10) Kemudian angin – anginkan hingga kering;
11) Jika kertas ( pereaksi II ) berubah menjadi kemerahan atau merah, tandanya sampel positif mengandung boraks.
3.Pemeriksaan kandungan Metil yellow
a. Alat
1. Beaker gelas 50 ml
2. Benang wol bebas lemak (30 cm)
3. Chamber
4. Erlenmeyar 250 ml
5. Gelas ukur 10 ml dan 50 ml
6. Labu ukur 50 ml dan 100 ml
7. Penangas air
8. Pipet micro 50 ul
9. Pipet volume 5 ml dan 10 ml
10. Plate silica gel GF. 254
11. Whatman
b. Bahan
1. Ammonia 10 %
2. Aquadest
3. Asam asetat encer 6 %
4. Asam asetat glacial
5. Baku metanil yellow
6. Etanol
7. N- butanol
8. Sampel makanan
D.Prosedur Kerja
a. Larutan uji
1. Masukan 30 ml cuplikan dalam tabung 100 ml, asamkan sedikit dengan asam asetat glacial encer 6 % dan masukan benang wol bebas lemak
2. Panaskan diatas tangas air sampai semua warna terisolasi
3. Benang wol yang telah berwarna, dipisahkan dan dicuci dengan air dan dimasukan dalam labu 50 ml
4. Tambahkan 10 ml ammonia secukupnya, panaskan diatas penangas air sampai benang wol tidak berwarna. Setelah benang wol dipisahkan, laritan dipekatkan (A)
b. Larutan baku (B)
1. Timbang saksama metanil yellow 50 mg
2. Larutkan dengan aquadest secukupnya
3. Tambahkan lagi aquadest sampai batas tanda labu 100 ml.
c. Prosedur identifikasi
1. Larutan A dan B ditotolkan secara terpisah dan kromatografi lapis tipis, sebagai berikut :
2. Fase diam : plate silica gel
3. Fase gerak :
1) N- butanol : aquadest : asam asetat glacial = 20 : 12 : 5
2) N- butanol : etanol : aquadest : ammonia = 42 : 28 : 28 : 1
4. Dilakukan penjenuhan dengan kertas saring
5. Pengukuran volume penotolan larutan A dab B masing-masing 10 ul
6. Ukur jarak rambat sepanjang 15 cm
7. Penentuan penampak bercak adalah cahaya tampak, bercak berwarna kuning.
BAB III
HASIL DAN ANALISA HASIL
A. HASIL
Berdasarkan hasil pemeriksaan di temukan :
1.Formalin ( Ikan kering ) = positif mengandung formalin
2.Boraks ( sosis manyuss ) = negatif mengandung boraks
3.Metil yellow ( manisan mangga ) = tidak mengandung metil yellow
B.ANALISA HASIL
Dari hasil pemeriksaan diperoleh bahwa sampel ikan kering positif mengandung formalin, yaitu 5mg/l dengan pengenceran 5x ( 5x5 = 25 mg/l) sehingga tidak aman untuk di komsumsi .ciri-ciri ikan kering yang mengandung formalin dapat di lihat dari keadaan dimana ikan kering di beli yaitu ikan kering sama sekali tidak di hinggapi lalat, tidak mudah rusak, aromanya tidak berbau khas ikan kering .
Dari hasil pemeriksaan diperoleh bahwa sampel sosis manyus di alfamart banta-bantaeng negatif mengandung boraks. Ciri-ciri sosis yang mengandung boraks yaitu teksturnya lebih kenyal, bila di digigit akan kembali ke bentuk semula, tahan lama, bau tidak beraroma sosis tapi ada bau yang lain muncul atau berbau menyengat, dan bila di lempar ke lantai akan memantul .
Dari hasil pemeriksaan diperoleh bahwa sampel manisan mangga negatif mengandung metil yellow. Meskipun pada manisan warna kuningnya mencolok tetapi itu hanya menggunakan pewarma alami bukan pewarna metil yellow.dan berdasarkan permenkes no.239/Menkes/per/V/85 aman untuk di komsumsi.
DAFTAR PUSTAKA
Chrisnanda95.blospot.com ( diakses pada 3 april 2018 )
https://id.m.wikipedia.org>wiki>boraks ( diakses pada 3 april 2018 )
Seputarpengertian.blogpot.com ( diakses pada 3 april 2018 )
Https://serbaserbi.blogspot.com ( diakses pada 3 april 2018 )
Komentar
Posting Komentar